Baja Tulangan Beton, Banyak yang Ringkih Tak Penuhi SNI

Kementerian Perdagangan mengatakan 82 prosen produk baja tulangan beton yang tersebar di pasar, tak penuhi keputusan Standard Nasional Indonesia (SNI). Hal semacam itu sebagai hasil hasil pemantauan selama 2019.

Direktur Jenderal Perlindungan Costumer serta Tertata Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, menjelaskan rendahnya mutu baja di pasar satu diantaranya lantaran tekonologi pemrosesan induction furnace.
“Masalah dalam industri baja waktu ini yaitu industri technologi induction furnace (IF) yang menimbulkan pencemaran serta kerusakan lingkungan, dan mutu produk baja yang rendah serta tidak pas keputusan,” ujarnya dalam pengakuan sah, Jumat (1/11).
Technologi induction furnace (IF) yaitu sistem pengerjaan baja dengan memanasi scrap (rongsokan logam) yang setelah itu berubah menjadi besi beton. Cost produksi dengan technologi ini begitu murah, akan tetapi menghancurkan lingkungan dan membuahkan pencemaran, seperti asap serta debu proses dari produksi.
Walaupun sebenarnya proses pemrosesan yang diperbolehkan oleh pemerintah, scrap itu tidak hanya dipanaskan, namun juga dihisap debunya, maka lingkungan aman.
Berhati-hati Membeli Baja Tulangan Beton, Banyak yang Rapuh Gak Penuhi SNI (1)
Pekerja berjalan pabrik peleburan baja di Cakung, Jakarta, Kamis (8/8). Poto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) menjelaskan, China udah meniadakan technologi IF serta larang pemasaran scrap terhadap industri baja, sejak mulai 2017. Sejak mulai larangan itu berlaku, banyak industri baja China merelokasi pabrik ke sekian banyak negara ASEAN terhitung Indonesia.

Walaupun sebenarnya Asean Iron & Steel Council (AISC) udah menampik relokasi pabrik peleburan baja berteknologi IF itu. Diluar itu, produk baja karbon proses dari IF pun punya mutu di bawah standard. Bahkan juga produk baja tulangan tak pantas dimanfaatkan dalam program susunan (baja tulangan beton) lantaran rapuh.
Sayangnya, waktu ini belumlah ada peraturan terkait baja tulangan beton yang dibuat dengan technologi IF. Walau begitu, Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi serta Elektronika (ILMATE) pada Kementerian Perindustrian, Awal Hanggardani, menganjurkan industri mementingkan mutu serta prasyarat kwalitas buat produk sesuai sama SNI 2052:2017.
Perihal ini mengingat Indonesia yaitu negara yang riskan petaka gempa.
“Kami menganjurkan biar pemeran upaya Bj.TB (Baja Tulangan Beton) technologi IF biar terus menuruti SNI 2052:2017 yang mulai berlaku sejak mulai 31 Mei 2019,” kata Awal.

READ  Jangan Lewatkan Jenis dan Kelebihan Atap Alderon